BAB
I
ILMU
BUDAYA DASAR
1.1 Pengertian Ilmu Budaya Dasar
Ilmu budaya
dasar adalah suatu ilmu yang mempelajari dasar dasar dan pengertian
tentang konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah
kebudayaan.
1.2 Tujuan Ilmu Budaya Dasar
Penyajian mata
kuliah ilmu budaya dasar tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat
memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang
dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
1.3 Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar
Bertitik tolak
dalam kerangka tujuan yang telah ditetapkan, dua masalah pokok bisa dipakai
sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata kuliah
IBD (Ilmu Budaya Dasar), kedua masalah pokok itu adalah :
·
Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya
merupakan ungkapan masalah kemanusian dan budaya yang dapat didekati dengan
menggunakan pengetahuan budaya (The Humanities), Baik dari segi masing-masing
keahlian (Disiplin), didalam pengetahuan budaya, maupun secara gabungan (Antar
Bidang) berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya.
·
Hakekat manusia yang satu atau universal, akan
tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan masing-masing zaman
dan tempat.
BAB II
MANUSIA DAN
KEBUDAYAAN
3.1 Pengertian Manusia
manusia adalah
makhluk ciptaan ALLAH swt yang paling sempurna dibandingkan dengan makhlik
lainnya. Karena manusia mempunyai akal dan pikiran untuk berfikir secara logis
dan dinamis, dan bisa membatasi diri dengan perbuatan yang tidak dilakukan, dan
kita bisa memilih perbuatan mana yang baik (positif) atau buruk (negatif) buat
diri kita sendiri. Bukan hanya itu saja pengertian manusia secara umum adalah
manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosil. Karena bukan hanya diri
sendiri saja tetapi manusia perlu bantuan dari orang lain. Maka sebab itu
manusia adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial.
3.2 Hakikat Manusia
hakekat manusia
adalah kebenaran atas diri manusia itu sendiri sebagai makhluk yang diciptakan
oleh Tuhan Yang Maha Esa.
3.3 Kepribadian Bangsa Timur
Kepribadian
bangsa timur dapat diartikan suatu sikap yang dimiliki oleh suatu negara yang
menentukan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan. Kepribadian bangsa timur
pada umumnya merupakan kepribadian yang mempunyai sifat toleransi yang tinggi.
Kepribadian bangsa timur, kita tinggal di Indonesia termasuk ke dalam bangsa
timur, dikenal sebagai bangsa yang berkepribadian baik. Di dunia bangsa timur
dikenal sebagai bangsa yang ramah dan bersahabat.
3.4 Pengertian Kebudayaan
Kata kebudayaan
diambil dari Bahasa Sansekerta, yakni “buddhayah” yang artinya adalah hal – hal
yang memiliki arti budi dan akal manusia. Secara garis besar, maksudnya adalah
dengan budi dan akal, manusia dapat melangsungkan kehidupan. Budaya bersifat
turun temurun, dari generasi ke generasi terus diwariskan.
3.5 Unsur Kebudayaan
·
Bahasa
Suatu pengucapan yang indah dalam elemen kebudayaan dan sekaligus menjadi alat perantara yang utama bagi manusia untuk meneruskan atau mengadaptasikan kebudayaan. Ada dua bentuk bahasa yaitu lisan dan tulisan.
Suatu pengucapan yang indah dalam elemen kebudayaan dan sekaligus menjadi alat perantara yang utama bagi manusia untuk meneruskan atau mengadaptasikan kebudayaan. Ada dua bentuk bahasa yaitu lisan dan tulisan.
·
Sistem
pengetahuan
Unsur
ini berkisar pada pengetahuan tentang kondisi alam sekelilingnya dan
sifat-sifat peralatan yang dipakainya. Sistem pengetahuan meliputi ruang
pengetahuan tentang alam sekitar, flora dan fauna, waktu, ruang dan bilangan,
sifat-sifat dan tingkah laku sesama manusia, tubuh manusia.
·
Sistem
kemasyarakatan atau organisasi sosial.
Dimaknai
sebagai sekelompok masyarakat yang anggotanya merasa satu dengan sesamanya.
Organisasi sosial meliputi: kekerabatan, asosiasi dan perkumpulan, sistem
kenegaraan, sistem kesatuan hidup, perkumpulan.
·
Sistem peralatan
hidup dan teknologi
Teknologi
di sini dimaknai sebagai jumlah keseluruhan teknik yang dimiliki oleh para
anggota suatu masyarakat, meliputi keseluruhan cara bertindak dan berbuat dalam
hubungannya dengan pengumpulan bahan-bahan mentah, pemrosesan bahan-bahan itu
untuk dibuat menjadi alat kerja, penyimpanan, pakaian, perumahan, alat
transportasi dan kebutuhan lain yang berupa benda material. Unsur teknologi
yang paling menonjol adalah kebudayaan fisik yang meliputi, alat-alat produksi,
senjata, wadah, makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, tempat berlindung
dan perumahan serta alat-alat transportasi.
·
Sistem mata
pencaharian hidup
Ini
merupakan segala usaha manusia untuk mendapatkan barang dan jasa yang
dibutuhkan. Sistem ekonomi ini meliputi, berburu dan mengumpulkan makanan,
bercocok tanam, peternakan, perikanan, dan perdagangan.
·
Sistem religi
Perpaduan
antara keyakinan dan praktek keagamaan yang berhubungan dengan hal-hal suci dan
tidak terjangkau oleh akal. Sistem ini meliputi, sistem kepercayaan, sistem
nilai dan pandangan hidup, komunikasi keagamaan, dan upacara keagamaan.
·
Kesenian
Kesenian dapat dimaknai sebagai segala hasrat manusia terhadap keindahan. Bentuk keindahan yang beraneka ragam itu timbul dari imajinasi kreatif yang dapat memberikan kepuasan batin bagi manusia. Pemetaan bentuk kesenian dapat terbagi menjadi tiga garis besar, yaitu; seni rupa, seni suara dan seni tari.
Kesenian dapat dimaknai sebagai segala hasrat manusia terhadap keindahan. Bentuk keindahan yang beraneka ragam itu timbul dari imajinasi kreatif yang dapat memberikan kepuasan batin bagi manusia. Pemetaan bentuk kesenian dapat terbagi menjadi tiga garis besar, yaitu; seni rupa, seni suara dan seni tari.
3.6 Wujud Kebudayaan
·
Wujud kebudayaan
sebagai sistem ide
Sifatnya
abstrak dan tidak bisa diraba atau direkam dan terdapat di dalam alam pikiran
individu penganut kebudayaan tersebut. Wujud ini hanya dapat dirasakan dalam
kehidupan sehari-hari dalam bentuk norma, adat istiadat, agama dan hukum.
Contoh: Aturan atau norma sopan santun dalam bertutur kata kepada orang yang lebih tua, aturan bertamu di rumah orang lain. Contoh wujud konkretnya terdapat di dalam undang-undang atau aturan tertulis
Contoh: Aturan atau norma sopan santun dalam bertutur kata kepada orang yang lebih tua, aturan bertamu di rumah orang lain. Contoh wujud konkretnya terdapat di dalam undang-undang atau aturan tertulis
·
Wujud kebudayaan
sebagai sistem aktivitas
Sebuah aktivitas
atau kegiatan sosial yang berpola dari individu dalam suatu masyarakat. Sistem
ini terdiri dari aktivitas manusia yang saling berinteraksi dan berhubungan secara
berkelanjutan dengan sesamanya. Sifatnya konkret, dapat dilihat atau dipotret.
Contoh:
Budaya upacara perkawinan, proses pemilihan pemimpin, atau kampanye partai yang
dikategorikan sebagai wujud kebudayaan yang berupa aktivitas individu.
·
Wujud kebudayaan
sebagai sistem artefak
Ini merupakan
wujud yang paling konkret, dapat dilihat dan diraba langsung. Wujudnya berupa
kebudayaan fisik hasil kebudayaan manusia yang berupa tataran sistem ide,
pemikiran atau aktivitas manusia yang berpola.
Contoh: Wayang golek
dari Jawa, kain ulos dari Batak, songket dari Padang, ataupun sebuah mahar
berupa barang yang harus diberikan dalam upacara adat perkawinan.
Keterkaitan dan saling melengkapi dari ketiga wujud tersebut, membuat sebuah kebudayaan menjadi aktivitas yang berpola dari suatu masyarakat. Keteraturan pola dan batasan menjadi acuan atau pedoman hidup bagi penganut kebudayaan tertentu.
Keterkaitan dan saling melengkapi dari ketiga wujud tersebut, membuat sebuah kebudayaan menjadi aktivitas yang berpola dari suatu masyarakat. Keteraturan pola dan batasan menjadi acuan atau pedoman hidup bagi penganut kebudayaan tertentu.
3.7 Orientasi Nilai Budaya
Kluckhohn
dalam Pelly (1994) mengemukakan
bahwa nilai budaya merupakan sebuah
konsep beruanglingkup luas yang hidup dalam
alam fikiran sebahagian besar warga suatu masyarakat, mengenai apa yang
paling berharga dalam hidup. Rangkaian konsep itu satu sama lain saling
berkaitan dan merupakan sebuah sistem nilai – nilai budaya.
Secara fungsional
sistem nilai ini mendorong individu untuk
berperilaku seperti apa yang ditentukan. Mereka
percaya, bahwa hanya dengan berperilaku seperti itu
mereka akan berhasil (Kahl, dalam Pelly:1994). Sistem nilai itu menjadi pedoman
yang melekat erat secara emosional pada diri seseorang atau sekumpulan orang,
malah merupakan tujuan hidup yang diperjuangkan. Oleh karena itu, merubah
sistem nilai manusia tidaklah mudah, dibutuhkan waktu. Sebab, nilai – nilai
tersebut merupakan wujud ideal dari lingkungan
sosialnya. Dapat pula dikatakan bahwa
sistem nilai budaya suatu
masyarakat merupakan wujud
konsepsional dari kebudayaan mereka, yang seolah – olah berada
diluar dan di atas para individu warga masyarakat itu.
Ada lima masalah
pokok kehidupan manusia dalam setiap kebudayaan yang dapat ditemukan secara
universal. Menurut Kluckhohn dalam Pelly (1994) kelima masalah pokok tersebut
adalah: (1) masalah hakekat hidup, (2) hakekat kerja atau karya manusia, (3)
hakekat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu, (4) hakekat hubungan manusia
dengan alam sekitar, dan (5) hakekat dari hubungan manusia dengan manusia
sesamanya.
Berbagai
kebudayaan mengkonsepsikan masalah
universal ini dengan berbagai variasi
yang berbeda – beda. Seperti masalah
pertama, yaitu mengenai hakekat hidup manusia. Dalam banyak
kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Budha misalnya, menganggap hidup itu
buruk dan menyedihkan. Oleh karena itu pola kehidupan masyarakatnya berusaha
untuk memadamkan hidup itu guna mendapatkan nirwana,
dan mengenyampingkan segala
tindakan yang dapat menambah rangkaian hidup kembali
(samsara) (Koentjaraningrat, 1986:10). Pandangan seperti ini
sangat mempengaruhi wawasan dan makna
kehidupan itu secara keseluruhan. Sebaliknya banyak kebudayaan yang
berpendapat bahwa hidup itu baik. Tentu konsep – konsep kebudayaan yang berbeda
ini berpengaruh pula pada sikap dan wawasan mereka.
Masalah kedua
mengenai hakekat kerja atau karya dalam kehidupan. Ada kebudayaan yang
memandang bahwa kerja itu sebagai usaha untuk kelangsungan hidup (survive)
semata. Kelompok ini kurang tertarik kepada kerja keras. Akan tetapi ada juga
yang menganggap kerja untuk mendapatkan status, jabatan dan kehormatan. Namun,
ada yang berpendapat bahwa kerja untuk mempertinggi prestasi. Mereka ini
berorientasi kepada prestasi bukan kepada status.
Masalah ketiga
mengenai orientasi manusia terhadap waktu. Ada budaya yang memandang penting
masa lampau, tetapi ada yang melihat masa kini sebagai focus usaha dalam
perjuangannya. Sebaliknya ada yang jauh melihat kedepan. Pandangan yang berbeda
dalam dimensi waktu ini sangat mempengaruhi perencanaan hidup masyarakatnya.
Masalah keempat
berkaitan dengan kedudukan fungsional manusia terhadap alam. Ada yang percaya
bahwa alam itu dahsyat dan mengenai kehidupan manusia. Sebaliknya ada yang
menganggap alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa untuk dikuasai manusia.
Akan tetapi, ada juga kebudayaan ingin mencari harmoni dan keselarasan dengan alam.
Cara pandang ini akan berpengaruh terhadap pola aktivitas masyarakatnya.
Masalah kelima
menyangkut hubungan antar manusia. Dalam banyak kebudayaan hubungan ini tampak
dalam bentuk orientasi berfikir, cara bermusyawarah, mengambil keputusan dan
bertindak. Kebudayaan yang menekankan hubungan horizontal (koleteral) antar
individu, cenderung untuk mementingkan hak azasi, kemerdekaan dan kemandirian
seperti terlihat dalam masyarakat – masyarakat eligaterian. Sebaliknya
kebudayaan yang menekankan hubungan vertical cenderung untuk mengembangkan
orientasi keatas (kepada senioritas, penguasa atau pemimpin). Orientasi ini
banyak terdapat dalam masyarakat paternalistic (kebapaan). Tentu saja pandangan
ini sangat mempengaruhi proses dinamika dan mobilitas social masyarakatnya.
Inti permasalahan
disini seperti yang dikemukakan oleh Manan dalam Pelly (1994) adalah siapa yang
harus mengambil keputusan. Sebaiknya dalam system hubungan vertical keputusan
dibuat oleh atasan (senior) untuk semua orang. Tetapi dalam masyarakat
yang mementingkan kemandirian individual, maka
keputusan dibuat dan diarahkan kepada masing – masing individu.
Pola orientasi
nilai budaya yang hitam putih tersebut di atas merupakan pola yang ideal untuk
masing – masing pihak. Dalam kenyataannya terdapat nuansa atau variasi
antara kedua pola yang ekstrim itu
yang dapat disebut sebagai pola transisional.
3.8 Perubahan Kebudayaan
Perubahan
kebudayaan adalah perubahan yang terjadi dikarenakan adanya ketidaksesuaian
terhadap unsur-unsur budaya. Perubahan kebudayaan biasanya terjadi karena
adanya ketidakserasian terhadap fungsi yang ada pada kehidupan. Seiring dengan
berkembangnya zaman maka perubahan kebudayaan akan terus terjadi, hal ini
dikarenakan perubahan kebudayaan terjadi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
3.9 Kaitan Manusia Dengan Kebudayaan
Manusia dan
kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan
ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan
mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari
kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian – kejadian yang sudah diatur oleh
Yang Maha Kuasa.
Kebudayaan
berasal dari kata budaya yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan
akal manusia. Definisi Kebudyaan itu sendiri adalah sesuatu yang akan
mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang
terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari,
kebudayaan itu bersifat abstrak. Namun kebudayaan juga dapat kita nikmati
dengan panca indera kita. Lagu, tari, dan bahasa merupakan salah satu bentuk
kebudayaan yang dapat kita rasakan.
Secara sederhana
hubungan antara manusia dengan kebudayaan ketika manusia sebagai perilaku
kebudayaan,dan kebudayaan tersebut merupakan objek yang dilaksanakan
sehari-hari oleh manusia.
BAB
III
ILMU
BUDAYA DASAR DALAM KESASTRAAN
3.1 Pendekatan Kesastraan
Dalam mengkaji sebuah karya sastra, kita tidak
dapat melepaskan diri dari carapandang yang bersifat parsial, maka ketika
mengkaji karya sastra, seringkali seseorangakan memfokuskan perhatiaanya hanya
kepada aspek-aspke tertentu dari karya sastra.Aspek-aspek tertentu itu misalnya
berkenaan dengan persoalan estetika, moralitas,psikologi, masyarakat, beserta
dengan aspek-aspeknya yang lebih rinci lagi, dansebagainya. Hal itu sendiri,
memang bersifat multidimensional. Karena hal-hal di atas,maka muncul berbagai
macam pendekatan kajian sastra. Berikut pendekatan dalamkajian sastra:
·
Pendekatan Mimetik
Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang
dalam mengkaji karya sastraberupa memahami hubungan karya sastra dengan
realitas atau kenyataan. Katamimetik berasal dari kata mimesis (bahasa Yunani)
yang berarti tiruan. Dalampendekatan ini karya sastra dianggap sebagai tiruan
alam atau kehidupan (Abrams,1981). Untuk dapat menerapkannya dalam kajian
sastra, dibutuhkan data-data yangberhubungan dengan realitas yang ada di luar
karya sastra. Biasanya berupa latarbelakang atau sumber penciptaa karya sastra
yang akan dikaji. Misal novel tahun1920-an yang banyak bercerita tentang
"kawin" paksa. Maka dibutuhkan sumberdan budaya pada tahun
tersebut yang berupa latar belakang sumber penciptaannya.
·
Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang
dalam mengkaji karya sastramemfokuskan perhatiannya pada sastrawan selaku
pencipta karya sastra.Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai ekspresi
sastrawan, sebagaicurahan perasaan atau luapan perasaan dan pikiran sastrawan,
atau sebagai produkimajinasi sastrawan yang bekerja dengan persepsi-persepsi,
pikiran atau perasaanya.Kerena itu, untuk menerapkan pendekatan ini dalam
kajian sastra, dibutuhkansejumlah data yang berhubungan dengan diri sastrawan,
seperti kapan dan di manadia dilahirkan, pendidikan sastrawan, agama, latar
belakang sosial budayannya, jugapandanga kelompok sosialnya.
·
Pendekatan Pragmatik
Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang
memandang karya sastrasebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada
pembaca. Dalam hal initujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan,
moral, agama, maupuntujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung
menilai karya sastramenurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi
pembacannya(Pradopo, 1994).Dalam praktiknya, pendekatan ini mengkaji dan
memahami karya sastraberdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran)
moral, agama,maupun fungsi sosial lainnya. Semakin banyaknya nilai-nilai
tersebut terkandungdalam karya sastra makan semakin tinggi nilai karya sastra
tersebut bagipembacannya.
·
Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif adalah pendekatan yang
memfokuskan perhatiankepada karya sastra itu sendiri. Pendekatan ini memandang
karya sastra sebagaistruktur yang otonom dan bebas dari hubungannya dengan
realitas, pengarangmmaupun pembaca. Pendekatan ini juga disebut oleh Welek
& Waren (1990) sebagaipendekatan intrinsik karena kajian difokuskan pada
unsur intrinsik karya sastra yangdipandang memiliki kebulatan, koherensi, dan
kebenaran sendiri.
·
Pendekatan Struktural
Pendekatan struktural ini memandang dan
memahami karya sastra dari segistruktur karya sastra itu sendiri. Karya sastra
dipandang sebagai sesuatu yangotonom, berdiri sendiri, bebas dari pengarang,
realitas maupun pembaca (Teeuw,1984). Dalam hal ini setiap unsur dianalisis
dalam hubungannya dengan unsur yanglain.
·
Pendekatan Semiotik
Dalam kajian sastra, pendekatan semiotik
memandang sebuah karya sastrasebagai sebuah sistem tanda.Secara sistematik,
semiotik mempelajari tanda-tandadan lambang-lambang, sistem lambang, dan proses-proses
perlambangan.Pendekatan ini memandang fenomena sosial dan budaya sebagai
suatusistem tanda. Tanda tersebut hadir juga dalam kehidupan sehari misal:
bendera putih di depan gang,maka orang akan berpikir ada salah satu
keluarga yang sedangada yang berduka. contoh lain adalah
mendung : orang akan berpikir hujan akansegera
turun sebentar lagi. Tentu saja untuk memahaminya dibutuhkanpengetahuan tentang
latarbelakang sosial-budaya karya sastra tersebut dibuat.Tanda, dalam
pendekatan ini terdiri dari dua aspek yaitu: penanda (hal yangmenandai sesuatu)
dan petanda (referent yang diacu).
·
Pendekatan Sosiologi Sastra
Pendekatan sosiologi sastra merupakan
perkembangan dari pendekatanmimetik. Pendekatan ini memahami karya sastra dalam
hubungannya denganrealitas dan aspek sosial kemasyarakatannya. Pendekatan ini
dilatarbelakangi olehfakta bahwa keberadaan karya sastra tidak dapat lepas dari
realitas sosial yangterjadi di suatu masyarakat (Sapardi Djoko Damono 1979).
·
Pendekatan Resepsi Sastra
Resepsi berarti tanggapan. Dari pengertian
tersebut dapat kita pahami maknaresepsi sastra adalah tanggapan dari
pembaca terhadap sebuah karya sastra.Pendekatan ini mencoba memahami dan
menilai karya sastra berdasarkantanggapan para pembacanya.
·
Pendekatan Psikologi Sastra
Wellek & Waren (1990) mengemukakan empat
kemungkinan pengertian.Pertama adalah studi psikologi pengarang sebgai tipe
atau pribadi. Kedua studiproses kreatif. Ketiga studi tipe dan hukum-hukum
psikologi yang diterapkan dalamkarya sastra. Pengertian keempat menurut Wellek
& Waren (1990) terasa lebihdekat pada sosiologi pembaca.
·
Pendekatan Moral
Di samping karya sastra dapat dibahas dan
dikritik berdasrkan sejumlahpendelatan yang telah diuraikan sebelumnnya, karya
sastra juga dapat dibahasa dandikritik dengan pendekatan moral. Sejauh manakah
sebuah karya sastramenawarkan refleksi moralitas kepada pembacanya. Yang
dimaksudkan denganmoral adalah suatu norma etika, suatu konsep tentang
kehidupan yang dijunjungtinggi oleh masyarakatnnya. Moral berkaitan erat dengan
baik dan buruk.Pendekatan ini masuk dalam pendekatan pragmatic
·
Pendekatan Feminisme
Pendekatan feminisme dalam kajian sastra
sering dikenal dengan nama kritiksastra feminis. Pendekatan feminisme ialah
salah satu kajian sastra yangmendasarkan pada pandangan feminisme yang
menginginkan adanya keadilandalam memandan eksistensi perempuan, baik sebagai
penulis maupun dalam karyasastra (Djananegara, 2000:15).
3.2 Ilmu Budaya Dasar Yang Dikaitkan
Dengan Prosa
Prosa
adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme
(rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan
arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa latin "prosa"
yang artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk
mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk
surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media
lainnya. Prosa juga dibagi dalam dua bagian,yaitu prosa lama dan prosa baru.
Prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya
barat,dan prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa
pun.
Konsepsi
IBD dalam kesusastraan salah satunya adalah sastra sangat penting untuk
dipelajari karena sastra mempergunakan atau mempelajari masalah bahasa.
Menggunakan bahasa manusia dapat berkomunikasi, memahami alam semesta, dan
melahirkan ilmu pengetahuan. Adapun kaitan IBD dengan prosa yakni, prosa dapat
memberikan informasi dan wawasan hal ini besar kaitannya dengan konsepsi IBD yang
saya sampaikan diatas.
Dapat
saya tarik kesimpulan bahwa kaitan IBD dan prosa yaitu sama-sama mengandung
tujuan dalam proses pembentukan manusia yang berbudaya, berilmu, dan beradab.
3.3 Nilai Prosa Fiksi
Sebagai
seni yang bertulang punggung cerita, mau tidak mau lcarya sastra (prosa fiksi)
langsung atau tidak langsung membawakan moral, pesan atau cerita. Dengan
pezicataan lain prosa mempunyai nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat
sastra. Adapun nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra antara lain :
·
Prosa fiksi memberikan kesenangan
Keistimewaan
kesenangan yang diperoleh dan membaca fiksi adalah pembaca mendapatkan
pengalaman sebagaimana mengalaminya sendiri peristiwa itu peristiwa atau
kejadian yang dikisahkan. Pembaca dapat mengembangkan imajinasinya untuk
mengenal daerah atau tempat yang asing, yang belum dikunjunginya atau yang tak
mungkin dikunjungi selama hidupnya. Pembaca juga dapat mengenal tokoh-tokoh
yang aneh atau asing tingkah lakunya atau mungkin rumit perjalanan hidupnya
untuk mencapai sukses.
·
Prosa fiksi memberikan infonnasi
Fiksi
memberikan sejenis infonnasi yang tidak terdapat di dalam ensildopedi. Dalam
novel sexing kita dapat belajan sesuatu yang lebih datipada sejarah atau
laporan jumalistik tentang kehidupan masa kini, kehidupan masa lalu, bahkan
juga kehidupan yang akan datang atau kehidupan yang asing sama sekali.
·
Prosa fiksi memberikan warisan
kultural
Prosa
fiksi dapat menstimuli imaginasi, dan merupakan sarana bagi pemindahan yang tak
henti-hentinya dari warisan budaya bangsa.
·
Prosa memberikan keseimbangan
wawasan
Lewat
prosa fiksi seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalaman¬pengalaman
dengan banyak individu. Fiksi juga memungkinkan labih banyak kesempatan untuk
memilih respon-respon emosional atau rangsangan aksi yang mungkin sangat
berbeda daripada apa yang disajikan dalam kehidupan sendiri.
BAB IV
MANUSIA DAN CINTA KASIH
4.1 Cinta Kasih Dan Kasih Sayang
Cinta
adalah rasa sangat mengasihi dan sayang, atau sangat tertarik hatinya. Adapun
dari segi bahasa, cinta adalah ungkapan perasaan jiwa, ekspresi hati dan
gejolak naluri yang menggelayuti hati seseorang terhadap kekasihnya. Sedangkan
menurut Kahlil Gibran, cinta ialah perasaan untuk dirinya sendiri. Cinta adalah
kekuatan manusia yang paling tinggi. Ekspresi cinta dapat termasuk cinta
kepada ‘jiwa’ atau pikiran, cinta hukum dan organisasi, cinta badan, cinta
alam, cinta makanan, cinta uang, cinta belajar, cinta kuasa, cinta
keterkenalan, dll. Cinta lebih berarah ke konsep abstark lebih mudah dialami daripada
dijelaskan.
Cinta
adalah suatu perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda
lainnya. Bisa dialami semua makhluk. Penggunaan perkataan cinta juga
dipengaruhi perkembangan semasa. Perkataan sentiasa berubah arti menurut
tanggapan, pemahaman dan penggunaan di dalam keadaan, kedudukan dan generasi
masyarakat yang berbeda. Sifat cinta dalam pengertian abad ke 21 mungkin
berbeda daripada abad-abad yang lalu. Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk
meluapkan perasaan seperti berikut:
·
Perasaan terhadap keluarga
·
Perasaan terhadap teman-teman, atau
philia
·
Perasaan yang romantis atau juga
disebut asmara
·
Perasaan yang hanya merupakan
kemahuan, keinginan hawa nafsu atau cinta eros
·
Perasaan sesama atau juga disebut
kasih sayang atau agape
·
Perasaan tentang atau terhadap
dirinya sendiri, yang disebut narsisisme
·
Perasaan terhadap sebuah konsep
tertentu
·
Perasaan terhadap negaranya atau
patriotism
·
Perasaan terhadap bangsa atau
nasionalisme
Cinta
adalah perasaan dimana setiap orang dapat menunjukkan rasa kepeduliannya
terhadap seseorang.Cinta yang menghubungkan tali kedekatan setiap
manusia. Kasih sayang adalah salah satunya. Kasih sayang adalah penunjuk akan
sebuah cinta, yang menghubungkan rasa kasih dan sayangnya pada seseorang yang
dekat dengannya. Ada pula yang menyebutkan cinta itu berbeda dengan kasih
sayang. Namun, sebenarnya itu kurang tepat, karena cinta adalah kasih sayang.
Tapi kasih sayang itu belum tentu dapat dikatakan cinta.
4.2 Kemesraan
Kemesraan
berasal dari kata dasar ‘mesra’, yang artinya perasaan simpati yang akrab.
Kemesraan adalah hubungan akrab baik antara pria dan wanita yang sedang dimabuk
asmara maupun yang sudah berumah tangga. Kemesraan merupakan perwujudan kasih
sayang yang telah mendalam. Cinta yang berlanjut menimbulkan pengertian mesra
atau kemesraan. Kemesraan adalah perwujudan dari cinta. Kemesraan dapat
menimbulkan daya kreativitas manusia. Kemesraan dapat menciptakan berbagai
bentuk seni sesuai dengan kemampuan bakatnya. Kasih sayang adalah perasaan
sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang. Dengan perasaan
cinta dan suka kepada seseorang itu berkembang dan mengikat dan membentuk
sebuah embrio yang disebut dengan cinta. Cinta adalah sebuah perasaan yang
diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling mencintai, saling
memiliki, saling memenuhi, saling pengertian. Dengan cinta yang sudah dibentuk
dan terbentuk itu akan menciptakan suatu kemesraan. Kemesraan cintan membuat
orang semakin saling mencintai dan dicintai. Kemesraan adalah hubungan akrab
baik antara pria dan wanita yang sedang dimabuk asmara maupun yang sudah
berumah tangga. Pada akhirnya dengan perpaduan kasih sayang, cinta dan
kemesraan tersebut akan menciptakan suatu keharmonisan dalam kehidupan berumah
tangga maupun dalam menjalin hubungan cinta dengan kekasih kita.
Ada
pula, Tingkatan kemesraan dapat dibedakan berdasarkan umur, yaitu:
•
Kemesraan dalam Tingkat Remaja, terjadi dalam masa puber atau genetal pubertas
yaitu dimana masa remaja memiliki kematangan organ kelamin yang menyebabkan
dorongan seksualitasnya kuat.
•
Kemesraan dalam Rumah Tangga, terjadi antara pasangan suami istri dalam
perkawinan. Biasanya pada tahun tahun wal perkawinan, kemesraan masih sangat
terasa, namun bisa sudah agak lama biasanya semakin berkurang.
•
Kemesraan Manusia Usia Lanjut, Kemsraan bagi manusia berbeda dengan pada usia
sebelumnya. Pada masa ini diwujudkan dengan jalan – jalan dan sebagainya.
4.3 Pemujaan
Pemujaan
adalah dimana kita memuja atau mengagungkan sesuatu yang kita senangi. Pemujaan
dapat dilakukan dalam berbagai aspek seperti memuja pada leluhur,memuja pada
agama tertentu dan kepercayan yang ada.seperti Pemujaan pada leluhur adalah
suatu kepercayaa bahwa para leluhur yang telah meninggal masih memiliki
kemampuan untuk ikut mempengaruhi keberuntungan orang yang masih hidup. Dalam
beberapa budaya Timur, dan tradisi penduduk asli Amerika, tujuan pemujaan
leluhur adalah untuk menjamin kebaikan leluhur dan sifat baik pada orang hidup,
dan kadang-kadang untuk meminta suatu tuntunan atau bantuan dari leluhur.
Fungsi sosial dari pemujaan leluhur adalah untuk meningkatkan nilai-nilai
kekeluargaan, seperti bakti pada orang tua, kesetiaan keluarga, serta
keberlangsungan garis keturunan keluarga.
Pemujaan
dimulai sejak manusia dilahirkan dengan akal yang dimilikinya. Manusia telah
berfikir kritis tentang alam dan kejadiannya. Hal ini dapat diwujudkan dengan
mengagumi dan bersyukur kepada Sang Pencipta. Dalam mencari bentuk-bentuk
pemujaan dapat berupa ibadah sebagai media komunikasi antara manusia dengan
Tuhan, membangun tempat ibadah yang sebaik-baiknya, mencipta lagu, puisi,
novel, film, dan sebagainya yang bertema mencintai Sang Pencipta.
4.4 Belas Kasih
Belas
kasih adalah kebajikan di mana kapasitas emosional empati dan simpati untuk
penderitaan orang lain dianggap sebagai bagian dari cinta itu sendiri, dan
landasan keterkaitan sosial yang lebih besar dan humanisme-dasar ke tertinggi
prinsi-prinsip dalam filsafat, masyarakat, dan kepribadian .
Dalam
surat Al –Qolam ayat 4,” maka manusia menaruh belas kasihan kepada orang lain,
karena belas kasihan adalah perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang
berbudi sangat dipujikan oleh Allah SWT.”
Perbuatan
atau sifat menaruh belas kasihan adalah orang yang berahlak. Manusia mempunyai
potensi untuk berbelas kasihan. Masalahnya sanggupkah ia mengggugah potensi
belas kasihannya itu. Bila orang itu tergugah hatinya maka berarti orang
berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT.
Ada
aspek belas kasih yang menganggap dimensi kuantitatif, seperti individu belas
kasih yang sering diberi milik kedalaman,kekuatan atau
gairah . Lebih kuat dari empati , merasakan umumnya menimbulkan aktif
keinginan untuk meringankan penderitaan orang lain.. Hal ini sering,
meskipun tidak pasti, komponen kunci dalam apa yang memanifestasikan dalam
konteks sosial .Dalam etika istilah, berbagai ungkapan bawah usia yang disebut
Golden Rule mewujudkan oleh implikasi prinsip kasih sayang: untuk orang
lain apa yang Anda ingin mereka lakukan untuk Anda.
4.5 Cinta Erotis
Cinta
erotis adalah cinta yang cenderung mengarah kepada cinta sepasang insane
berlainan jenis. Pada hakikatnya cinta kasih tersebut bersifat eksklusif, bukan
universal, dan juga barangkali merupakan bentuk cinta kasih yang paling tidak
dapat dipercaya.
Cinta
erotis cinta itu mempunya arti “cinta yang primitif” , cinta diartikan sebagai
aktivitas berhubungan badan. Daya tarik atau pemikat antara dua jenis manusia
di tingkatan cinta erotis hanya diukur dari sifat badaniah yang (sangat)
aksiden. Parameter cinta erotis diukur dari kepuasan biologis. Cinta jenis ini
kerap terjadi pada usia remaja, dimana pada masa ini remaja sedang mengalami
masa pubertas. Sehingga pada masa transisi ini rasa ingin tahunya terhadap
lawan jenisnya cukup besar. Cinta ini membutuhkan kontrol secara menyeluruh,
agar mereka yang mengalaminya tidak terjatuh ke dalam hal-hal yang melanggar
norma.
Cinta
kasih mereka sebenarnya merupakan egoism dua orang , mereka adalah dua orang
yang saling menemukan kesamaan. Cinta kasih erotis mengeksklusifkan cinta kasih
terhadap orang lain hanyalah dalam segi-segi fusi erotis dan keitsertaan dengan
semua aspek kehidupan orang-orang lain, tapi bukan dalam arti cinta kasih yang
mendalam.
Cinta
kasih erotis apabila ia benar-benar cinta kasih, mempunyai satu pendirian,
yaitu bahwa seseorag sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya
yang sedalam dalamnya. Hal ini memang merupakan dasar gagasan bahwa suatu
pernikahan tradisional, yang kedua mempelainya tidak pernah meiliki jodohnya
sendiri. Dalam kebudayaan barat/zaman sekarang, gagasan itu ternyata tidak
dapat diterima sama sekali. Ada pula orang yang memandang bahwa factor yang
penting di dalam cinta kasih erotis itu adalah keinginan.
Dengan
demikian maka, baik pandangan bahwa cinta kasih erotis merupakan atraksi
individual belaka maupun pandangan bahwa cinta kasih erotis itu tidak lain
daripada perbuatan kemauan. Oleh karena itu, gagasan bahwa hubungan pernikahan
mudah saja dapat diputuskan apabila orang tidak bersukses didalamnya, merupakan
gagasan bahwa hubungan semacam itu, didalam keadaan bagaimanapun, tidak boleh
diputuskan.
DAFTAR PUSTAKA

Komentar
Posting Komentar